Selasa, 17 Mei 2016

Harapan Itu Masih Ada
Oleh : Afri Welly


Sering kali keputusasaan datang menyelimuti diri.
Seakan semua usaha telah menemui titik ujungnya.
Dan semua akan berakhir sia-sia tak bermakna.

Diri ini seakan lupa pada-Nya yang selalu ada dan menunggu hati bermunajat mesra.
Karena diri terlalu sibuk mengutuk setiap kegagalan dan segala yang menyesakkan di dunia ini.

Sahabat,
Terlalu cepat diri menerka hasil usaha sendiri.
Terlalu dini menilai semuanya akan berakhir sia-sia.

"... dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir."
[QS. Yusuf : 87]

Janganlah berputus asa dari rahmat Allah,
Harapan itu masih ada.
Biarkan secercah semangat itu menyala dalam diri.
Menyinari setiap langkah.
Menyambut esok yang cemerlang.

Ikhlaskan setiap hari yang dilalui,
Karena hidup hanya perjalanan sesaat yang pasti akan berujung.

Ikhlaskan esokmu, menunggu setiap rahasia indah yang telah ditakdirkan-Nya.

"Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit."

-Ali Bin Abi Thalib-
Menikmati Surga Dunia
Oleh: Rochma Yulika


Meski dunia hanya sesaat, dan berjalannya waktu secepat lintasan kilat.
Tempa diri menjadi pribadi yang bermartabat dan bermanfaat untuk umat.
Begitulah cara menikmati surga di dunia dengan memperbaiki tabiat.

Manusia-manusia ahli surga bisa kita dapati di dunia ini.
Mereka adalah manusia yang mau mengabdi di jalan dakwah ini.
Mereka sangat menikmati saat-saat berkhalwat di malam yang sunyi.
Mereka yang senantiasa khusyu' kala bermunajat pada Ilahi Rabbi. 

Jika tidak bisa menikmati surga dunia, janganlah berharap bisa menikmati surga di akhirat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

أن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة
“Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga di akhirat.”
[Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Koiro, cet. III, Syamilah]

Surga tersebut adalah manisnya iman, nikmatnya berilmu agama dan ketenangan hati dengan beramal.
Menjalin ukhuwah dengan senantiasa menjaga kebersihan hati. 
Agar tak mudah goyah bila didera fitnah.
Agar tak mudah sengketa meski diguncang prahara.
Dan tak mudah berselisih meski terkadang merasakan pedih.

Mari kita nikmati indahnya kebersamaan dengan orang-orang yang beriman agar kelak dipersatukan di kehidupan yang tiada berakhiran.

Wallahu musta'an.
Agar bisa berinteraksi kembali dengan Al-Qur’an, maka perlu disadarkan kembali kewajiban-kewajiban kita di hadapan Al-Qur’an.

Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengungkapkan beberapa kewajiban Muslim terkait dengan Al-Qur’an yaitu :

1. Seorang Muslim harus memiliki keyakinan  yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah SWT. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an pasti akan menuai kegagalan.

2. Kaum Muslimin wajib  menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah SWT melalui Al-Qur’an.

Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum salaf. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al-Qur’anul Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktunya untuk itu.

Sunnah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari.
Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

3. Ketika membaca Al-Qur’an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya. Demikian pula saat kita mendengarkan Al-Qur’an harus memperhatikan adab-adabnya. Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya.

4. Setelah kita mengimani bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya, baik dalam tingkatan individu maupun hukum-hukum yang berkaitan dengan  masyarakat atau hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa.

#repost

FB Bunda Rochma Yulika II
Kondisi Manusia

Jika engkau memperhatikan kondisi manusia, maka engkau akan dapati :
- Ada yang jika engkau melihatnya maka engkau berkata, "Maasyaa Allah"
- Ada yang jika engkau memandangnya niscaya engkau berkata, "Subhaanallah"
- Ada yang jika engkau menatapnya engkau berkata, "Allahu Akbar"
- Ada yang jika engkau meliriknya engkau berkata, "Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji'uun"
- Ada yang jika engkau memperhatikannya engkau berkata, "Hasbunallahu wa ni'mal wakiil"
- Ada yang engkau berkata, "Astaghfirullah wa atuubu ilaih"
- Ada yang engkau berkata, "Alhamdulillah alldzi 'afaani mimmaa ubtuliita bih" (segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari cobaan yang engkau alami)
- Ada yang engkau berkata kepadanya, "Syafaakallahu…" (semoga Allah menyembuhkanmu dari penyakitmu)
- Ada yang engkau berkata, "A'uudzu billahi minasysyaithoonirrojiim"

Sekarang cobalah engkau memandang dan merenungkan dirimu dan jiwamu…
Renungkan kondisimu…
Maka jika ada orang yang melihatmu maka apakah yang kira-kira akan ia ucapkan?

Lantas jika ia melihat hakikat dirimu yang sebenarnya tatkala engkau bersendirian, maka kira-kira apakah yang akan ia ucapkan?

Akan tetapi yang terpenting bukanlah penilaian manusia akan tetapi penilaian Allah subhaanahu wa ta'aalaa


Ustadz Firanda Andirja, MA
Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga
.
Tempat, dimana org tua kita, Adam, tinggal pertama kali.
Kita tinggal di sini hanya untuk sementara,
Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali. .
Maka berusahalah semampumu,
Untuk mengejar kafilah org2 salih, Yang akan kembali ke tanah air yg sgt luas, di akhirat sana…
Jgn sia2kan waktumu di planet kecil ini..! .
Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yg jauh,Atau karena ditinggal orang tercinta,
Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan, sebab kita akan bertemu lagi di akhirat
.
Perpisahan adalah ketika satu diantara kita masuk surga, sedang yang lainnya terjerembab ke neraka.
.

Semoga Allah menjadikan aku dan kalian semua menjadi penghuni surgaNya. (nasehat syaikh 'Aidh Al Qarni) .