Rabu, 21 Desember 2011

4 Istri


Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 isteri. Dia sangat mencintai istri ke 4 dan menganugerahinya harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik diantara semua isterinya.
Pria ini juga mencintai isterinya yang ke-3, ia sangat bangga dengan sang isteri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu khawatir kalau isterinya ini lari dengan pria lain.
Begitu juga dengan isteri ke-2. Sang pedagang sangat menyukainya karena ia isteri yang sabar dan penuh pengertian. Kapanpun pedagang mendapat masalah. Ia selalu minta pertimbangan isteri ke-2 nya ini, yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.
Sama halnya dengan isteri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang mengatur dan merawat semua kekayaan dan bisnis sang suami. Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski isteri pertama ini begitu sayang kepadanya.
Suatu hari si pedagang sakit dan menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati, “Saat ini aku punya 4 isteri. Namun saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan.” Lalu pedagang memanggil semua isteri nya.
ISTRI KE-4 : NO WAY                                                                                                
Sang pedagang bertanya ke pada isteri ke-4. “Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingin dan menemaniku?” Ia terdiam…Tentu saja tidak! Jawab isteri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan-akan ada pisau terhunus dan mengiris-iris hatinya.
ISTRI KE-3 : MENIKAH LAGI
Pedagang itu sedih lalu bertanya pada isteri ke-3. “Akupun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku menemani akhir hayatku?” isteri nya menjawab, “Hidup begitu indah disini, aku akan menikah lagi jika kau mati”. Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang sangat terpukul dengan jawaban tersebut. Badanya terasa demam.
ISTRI KE-2 : SAMPAI LIANG KUBUR
Kemudian sang pedagang memanggil isteri ke-2. “ Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah engkau mendampingiku?” Jawab sang isteri “Maafkan aku…kali ini aku tak bisa menolongmu. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur. Nanti akan ku buatkan makam yang indah untukmu.”


ISTERI KE-1 : SETIA BERSAMA SUAMI
Pedagang ini merasa berputus asa. Dalam kondisi kecewa itu, tiba-tiba terdengar suara, “Aku akan tinggal bersamamu. Pria itu lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engkau kurus seperti ini, isteriku.”

HIDUP KITA DIWARNAI 4 ISTERI.
Sesungguhnya, kita punya 4 isteri dalam hidup ini.
Isteri ke-4 adalah TUBUH kita.
Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap kepada-Nya.
Isteri ke-3 adalah STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN
Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sebesar apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejap ketika kita tiada.
Sedangkan isteri ke-3 adalah KERABAT DAN TEMAN
Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, kita tak akan bias terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita.
Dan sesungguhnya isteri perta kita adalah JIWA DAN AMAL KITA
Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amallah yang mampu menolong kita diakhirat nanti.
Jadi selagi mampu perlakukanlah jiwa kita dengan bijak serta jangan malu untuk berbuat amal, memberikan pertolongan kepada sesame yang membutuhkan. Betapapun kecil pemberian kita, itu sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar